Dalam satu dialog ringan tadi siang dengan seorang teman, aku sempat termangu...
Bukan hanya termangu oleh parasnya yang rupawan dihias oleh bibir mungilnya yang begerak naik turun ketika dia berceloteh (Subhanallah!!), tetapi juga terkesima oleh penuturannya yang sarat dengan esensi "kepasrahan" pada yang kuasa.
Statement kepasrahan itu menimbulkan riak pertentangan dalam hatiku ketika hal itu diucapkannya dengan ekspresi datar dengan suara dangkal dan bergetar...
Setiap kata yang sama terlontar bebas dari mulut mungilnya...seketika itu pula aku mengalami gelombang de Javu. Secara refleks alam bawah sadarku kembali memanggil semua pengalaman dan intimidasi perasaan masa lalu yang berhubungan erat dengan kata "kepasrahan" itu...
Alih-alilh senang, aku cenderung merasa sangat tidak nyaman. Kupandangi matanya dalam satu garis lurus yang tajam, mencoba mencari sesuatu yang tersembunyi dalam pekatnya pupil dan selaput pelangi bola matanya. Mencoba mencari kesamaan dengan kegalauan yang kurasakan sejak awal dialog tadi...sulit!
Sekarang ke-termanguanku berganti kegundahan yang sangat menggelisahkan...
mengapa setiap kali mendengar seseorang menguraikan ekspresi kepasrahan mereka...seketika itu pula aku menjadi gelisah??
apakah karena itu menggelitik defenisi kepasrahanku secara personal?? ataukah disebabkan konsep "kepasrahan" kami berbeda secara kontekstual?? ataukah hanya aku yang menanggapainya secara berlebihan?? hhhh.....
Entahlah.....
Sunday, February 13, 2011
An ordinary woman
Selepas pulang dari menghadiri hajatan seorang teman, kepalaku tiba-tiba terasa berdenyut-denyut..lumayan hebat karena efeknya terasa seakan bola mataku mau saja melompat keluar dari orbita-nya. Otot-otot leherku menegang, menimbulkan sensasi nyeri yang sangat tidak menyenangkan dari tengkorak belakang kepalaku..terus menjalar ke bawah hingga batas pundak dan punggung...membuatku merasa lelah sekaligus sakit yang luar biasa..hmmm.
Diatas mobil Hyundai-merah darah yang kami (aku, suami dan anak-anakku) tumpangi...aku terdiam (tak seperti biasanya), sebab biasanya aku akan selalu berkicau cerewet, menceritakan tentang hal-hal yang baru saja kami alami..walaupun aku yakin suamiku pun sudah pasti mengetahui setiap detil peristiwa tersebut..(wong kami duduknya tak terpisahkan heheheh...). Terdiam tanpa penyebab yang jelas (menurut suamiku). Tapi aku terdiam sesungguhnya karena sedang merenung (setidaknya aku merasa seperti itu :-))
Pandangan mataku kulempar keluar, menembus kaca mobil yang kabur karena berembun. Memandangi satu persatu barisan rapi pokok-pokok Eucalyptus yang kami lewati sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Mencoba mencari penyebab sakit kepala dan ketegangan otot leher yang kurasakan. Tapi tak berhasil..
Alam pikiranku sesungguhnya sedang mencoba mencari satu hubungan harmonis antara keteduhan yang dihadirkan oleh kesempurnaan tatanan alam di kota ini (yang Subhanallah luar biasa indah) dengan perasaan nyaman secara fisik dan mental untuk tinggal, menetap dan membangun komunitas kecil di sini. Aku tersenyum sinis...
Dari ekor mataku aku melihat suamiku sedang mencuri pandang menatapku tersenyum. Aku yakin dia pasti sedang bertanya-tanya..hal apa yang sedang menguasai pikiranku hingga mampu membuatku terdiam dan akhirnya...tersenyum sendiri.
Pikiranku kembali melayang pada diskusi ringan dipesta tadi. Hhhhh...aku menarik nafas panjang, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin sebagai suplemen segar otakku (yang sedang kelelahan)...lalu menghembuskannya keluar secepat mungkin. Menghasilkan desahan yang agak keras dan berat...Kembali aku melihat suamiku melirik ke arahku. Aku yakin, sekali lagi aku melakukan gerakan yang sama, maka serentetan pertanyaan akan tumpah ruah keluar dari mulutnya...padahal aku sedang emoh ngomong. Save energy- kata anakku, and feel reluctant to talk-bisik hatiku
Aureka!!!!....
Akhirnya aku tahu..diskusi tadi yang sedikit banyak memberi kontribusi pada nyeri kepala ini. Lho kenapa?? Karena aku tak berhenti memikirkannya, membuat metabolisme energy disetiap gyrus otakku meningkat tiga kali lipat...lalu menghasilkan sampah metabolisme penyebab nyeri kepala itu. Lalu kenapa aku tak berhenti saja memikirkan diskusi itu, kalau aku sudah tau tak akan berefek baik buat otak dan tubuhku?? sederhana kan?? gitu aja kok repoot...
Nooopp...tak se-sederhana itu kawan..
Pertama, karena tak mudah menghapus setiap entry memory di otakku begitu saja.
Kedua, karena isi diskusi tadi sebagian (berarti tak seluruhnya) membahas tentang gosip murahan yang berseliweran di ranah ini yang sejatinya teduh dan harmonis. Menurut wikipedia gossip (kata benda) berarti bentuk penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya. Tak ada unsur konfirmasi, referens dan evidence-based yang jelas. Sedangkan gossip dalam bentuk kata kerja beraarti kegiatan penyebaran informasi yang belum tentu benar adanya...berujung ke fitnah. Ketika ketiga unsur ilmiah diatas alpa, maka secara saintifik...informasi itu mentah adanya, tak bisa diterima. Persoalan yang kemudian timbul adalah...hampir sebagian besar anggota komunitas perantau ini adalah pelajar sekaliber master dan doktor (yang kemampuan analisis rasionalis dan logikanya secara teori tak perlu dipertanyakan lagi, belum lagi menilik bekal spiritual mereka yang diatas rata-rata orang biasa-seperti aku) seharusnya mampu menjadi pemilah antara yang negatif dan positif). Tapi ibarat jauh lubuk dari ikannya, ternyata mereka (walaupun tak semuanya) tak mampu berperilaku sesuai dengan predikat ilmiah yang disandangnya (maaf jika harus berkata vulgar seperti itu..). They are not able to walk their talk...sangat mengecewakan!!!
Ketiga, introspeksi untuk diriku sendiri menjadi urgent adanya. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang meninggalkan tanah air lalu menginjakkan kaki di negeri indah ini dengan berbekal mimpi dan idealisme konyol untuk menjadi seseorang yang bisa berarti buat kampung dan agama. Mimpi dan idealisme konyol itulah yang kubuat sebagai perisai ditambah janji-janji manis pada mak dan bapakku untuk bisa merampungkan studyku di sini. Namun harus kuakui...hal itu juga mengahdirkan pergolakan bathin yang tidak ringan. Menguras energy dan menyita konsentrasiku. Seperti yang terjadi pada hari ini.
Hhh...Aku datang ke negeri ini dengan tujuan yang jelas....semoga perisai itu dengan doa yang kusandarkan pada Tuhanku mampu melindungiku dari hanyut dalam pusaran arus informasi dan ronrongan yang tak jelas.....karena aku hanya seorang wanita biasa....
Wollongong, 13th of Feb 2011
I love this town...but not the rumours
Diatas mobil Hyundai-merah darah yang kami (aku, suami dan anak-anakku) tumpangi...aku terdiam (tak seperti biasanya), sebab biasanya aku akan selalu berkicau cerewet, menceritakan tentang hal-hal yang baru saja kami alami..walaupun aku yakin suamiku pun sudah pasti mengetahui setiap detil peristiwa tersebut..(wong kami duduknya tak terpisahkan heheheh...). Terdiam tanpa penyebab yang jelas (menurut suamiku). Tapi aku terdiam sesungguhnya karena sedang merenung (setidaknya aku merasa seperti itu :-))
Pandangan mataku kulempar keluar, menembus kaca mobil yang kabur karena berembun. Memandangi satu persatu barisan rapi pokok-pokok Eucalyptus yang kami lewati sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Mencoba mencari penyebab sakit kepala dan ketegangan otot leher yang kurasakan. Tapi tak berhasil..
Alam pikiranku sesungguhnya sedang mencoba mencari satu hubungan harmonis antara keteduhan yang dihadirkan oleh kesempurnaan tatanan alam di kota ini (yang Subhanallah luar biasa indah) dengan perasaan nyaman secara fisik dan mental untuk tinggal, menetap dan membangun komunitas kecil di sini. Aku tersenyum sinis...
Dari ekor mataku aku melihat suamiku sedang mencuri pandang menatapku tersenyum. Aku yakin dia pasti sedang bertanya-tanya..hal apa yang sedang menguasai pikiranku hingga mampu membuatku terdiam dan akhirnya...tersenyum sendiri.
Pikiranku kembali melayang pada diskusi ringan dipesta tadi. Hhhhh...aku menarik nafas panjang, mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin sebagai suplemen segar otakku (yang sedang kelelahan)...lalu menghembuskannya keluar secepat mungkin. Menghasilkan desahan yang agak keras dan berat...Kembali aku melihat suamiku melirik ke arahku. Aku yakin, sekali lagi aku melakukan gerakan yang sama, maka serentetan pertanyaan akan tumpah ruah keluar dari mulutnya...padahal aku sedang emoh ngomong. Save energy- kata anakku, and feel reluctant to talk-bisik hatiku
Aureka!!!!....
Akhirnya aku tahu..diskusi tadi yang sedikit banyak memberi kontribusi pada nyeri kepala ini. Lho kenapa?? Karena aku tak berhenti memikirkannya, membuat metabolisme energy disetiap gyrus otakku meningkat tiga kali lipat...lalu menghasilkan sampah metabolisme penyebab nyeri kepala itu. Lalu kenapa aku tak berhenti saja memikirkan diskusi itu, kalau aku sudah tau tak akan berefek baik buat otak dan tubuhku?? sederhana kan?? gitu aja kok repoot...
Nooopp...tak se-sederhana itu kawan..
Pertama, karena tak mudah menghapus setiap entry memory di otakku begitu saja.
Kedua, karena isi diskusi tadi sebagian (berarti tak seluruhnya) membahas tentang gosip murahan yang berseliweran di ranah ini yang sejatinya teduh dan harmonis. Menurut wikipedia gossip (kata benda) berarti bentuk penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya. Tak ada unsur konfirmasi, referens dan evidence-based yang jelas. Sedangkan gossip dalam bentuk kata kerja beraarti kegiatan penyebaran informasi yang belum tentu benar adanya...berujung ke fitnah. Ketika ketiga unsur ilmiah diatas alpa, maka secara saintifik...informasi itu mentah adanya, tak bisa diterima. Persoalan yang kemudian timbul adalah...hampir sebagian besar anggota komunitas perantau ini adalah pelajar sekaliber master dan doktor (yang kemampuan analisis rasionalis dan logikanya secara teori tak perlu dipertanyakan lagi, belum lagi menilik bekal spiritual mereka yang diatas rata-rata orang biasa-seperti aku) seharusnya mampu menjadi pemilah antara yang negatif dan positif). Tapi ibarat jauh lubuk dari ikannya, ternyata mereka (walaupun tak semuanya) tak mampu berperilaku sesuai dengan predikat ilmiah yang disandangnya (maaf jika harus berkata vulgar seperti itu..). They are not able to walk their talk...sangat mengecewakan!!!
Ketiga, introspeksi untuk diriku sendiri menjadi urgent adanya. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang meninggalkan tanah air lalu menginjakkan kaki di negeri indah ini dengan berbekal mimpi dan idealisme konyol untuk menjadi seseorang yang bisa berarti buat kampung dan agama. Mimpi dan idealisme konyol itulah yang kubuat sebagai perisai ditambah janji-janji manis pada mak dan bapakku untuk bisa merampungkan studyku di sini. Namun harus kuakui...hal itu juga mengahdirkan pergolakan bathin yang tidak ringan. Menguras energy dan menyita konsentrasiku. Seperti yang terjadi pada hari ini.
Hhh...Aku datang ke negeri ini dengan tujuan yang jelas....semoga perisai itu dengan doa yang kusandarkan pada Tuhanku mampu melindungiku dari hanyut dalam pusaran arus informasi dan ronrongan yang tak jelas.....karena aku hanya seorang wanita biasa....
Wollongong, 13th of Feb 2011
I love this town...but not the rumours
An Ordinary woman
Cerita di bawah sesungguhnya kutulis pada tanggal 13 Februari 2011, pukul 12.19 malam...
Jadi tanggal yang tertera di sudut kiri atas itu adalah keliru..heheheheh...biar ngerti aja gitu
Jadi tanggal yang tertera di sudut kiri atas itu adalah keliru..heheheheh...biar ngerti aja gitu
Thursday, February 26, 2009
SAMPAI BATAS MANA RASA SALING MEMILIKI ITU ADA...
Tulisan ini terinspirasi dari kisah cinta dua orang anak manusia yang berlainan ras.
Semuanya berawal dari kisah cinta monyet mereka yang terjalin sejak keduanya masih duduk dibangku SD. Sebutlah mereka .....Mustafa dan Hwe Ping. Kisah cinta mereka termasuk sangat klasik... tumbuh sejak kali pertama pandangan mereka bertemu (padahal kalau dipikir-pikir anak se-kecil mereka itu tau apa soal pandangan pertama. Bisa saja pandangan mereka bertemu karena si anak lelaki ingin mengejek mata si anak perempuan yang teramat sipit --warisan dari rasnya memang begitu. Atau karena si anak perempuan ingin mengejek hidung si lelaki yang nyaris gak bisa dibedakan mana jidat mana dagu..... Yah tapi begitulah sifat hakiki dari cinta...tidak mengenal ras, usia dan struktur anatomi)
Cinta itu kemudian tumbuh dan berkembang dalam suasana kampung dengan segala keterbatasannya. Terbatas oleh gunjingan dan syak wasangka orang-orang kampung yang sungguh menikmati bila ada topik gunjingan yang baru dan hangat, yang juga dengan sepenuh hati akan menyebarkan virus ini kepada sekawanan tukang gunjing lainnya -- dengan kecepatan penyebaran mengalahkan kecepatan penyebaran virus flu burung.
Terbatas oleh waktu...karena entah mulai kapan dikampung mereka diberlakukan jam malam yang tersirat...maksudnya begini-- anak-anak dikampung Mustafa dan Hwe Ping hanya boleh bermain sampai waktu menjelang magrib. Setelah beduk magrib berbunyi mereka tidak boleh lagi keluar rumah kecuali untuk shalat dan ngaji di langgar...begitulah kira-kira
Tapi segala keterbatasan itu tidak jua menyurutkan jalinan cinta kasih mereka..terus...dan terus..hingga pada suatu ketika mereka harus berpisah..... (to be continued...)
Wednesday, February 25, 2009
PARESIS ITU MENYERANG JIWAKU...
Kawan..
tahukah kamu apa yang dimaksud dengan paresis??
Istilah paresis sering digunakan untuk menggambarkan satu kondisi yang menyebabkan terjadinya kelemahan pada anggota tubuh. Kelemahan ini dapat menyerang anggota tubuh untuk satu sisi tubuh yang sama (misalnya tangan kanan dan kaki kanan), kondisi ini yang disebut dengan hemiperese. Adapula kelemahan yang melibatkan kedua belah tangan saja (tidak pada kaki)..disebut dengan paraparese. Adalagi yang menyerang seluruh anggota badan (atas-bawah, kiri dan kanan)...ini yang disebut dengan tetraparese.....
Biasanya orang yang menderita paresis--entah itu masuk kategori yang mana-- biasanya akan merasa powerless..allias gak berdaya..
Seperti ini kira-kira contohnya..mau makan mangga tapi gak bisa ngupas... Mau mandi tapi gak bisa pegang timba (ehh boro-boro pegang timba...kudu bangun dari tempat tidur aja susahnya minta ampyuuuunnn)... Kebelet pipis tapi gak kuat buat buka resluiting clana...jadi kesimpulannya lemah tak berdaya dan butuh setidaknya satu asisten....
yahhhh..speerti itu lah kira-kira
Yang terjadi pada diriku entah paresis apa namanya...
Karena setelah berusaha mendiagnosa sendiri..tak kutemukan sedikitpun defisit neurologis yang bermakna. Artinya begini...kalau semua kondisi diatas dicari-cari dalam diriku..maka dokter lulusan manapun akan merasa frastuated karena gak akan menemukan kelainan organis apapun yang mereka cari..hehehe
Tapi aneh kawans....
Aku tetap merasa lemah...dan aku merasa belakangan ini aku gak mampu melakukan apa-apa. Otakku tetap berputar keras..berfikir hingga berdenyut-denyut menyakitkan karena kelebihan hormon serotonin...dan aku merasa jaras sinaptik dari otak ke organ motorik ku lumpuh..
sebab setiap kali aku ingin bergerak.... setiap kali itupula aku hanya bisa terhempas kembali ketempatku semula..tak berdaya..powerlesss..less..less
Aku hilang semangat...
Yang paresis justru jiwaku...dan aku merasa hal itu jauh lebih parah jika dibandingkan kelemahan organis manapun...
entah sampai kapan......
tahukah kamu apa yang dimaksud dengan paresis??
Istilah paresis sering digunakan untuk menggambarkan satu kondisi yang menyebabkan terjadinya kelemahan pada anggota tubuh. Kelemahan ini dapat menyerang anggota tubuh untuk satu sisi tubuh yang sama (misalnya tangan kanan dan kaki kanan), kondisi ini yang disebut dengan hemiperese. Adapula kelemahan yang melibatkan kedua belah tangan saja (tidak pada kaki)..disebut dengan paraparese. Adalagi yang menyerang seluruh anggota badan (atas-bawah, kiri dan kanan)...ini yang disebut dengan tetraparese.....
Biasanya orang yang menderita paresis--entah itu masuk kategori yang mana-- biasanya akan merasa powerless..allias gak berdaya..
Seperti ini kira-kira contohnya..mau makan mangga tapi gak bisa ngupas... Mau mandi tapi gak bisa pegang timba (ehh boro-boro pegang timba...kudu bangun dari tempat tidur aja susahnya minta ampyuuuunnn)... Kebelet pipis tapi gak kuat buat buka resluiting clana...jadi kesimpulannya lemah tak berdaya dan butuh setidaknya satu asisten....
yahhhh..speerti itu lah kira-kira
Yang terjadi pada diriku entah paresis apa namanya...
Karena setelah berusaha mendiagnosa sendiri..tak kutemukan sedikitpun defisit neurologis yang bermakna. Artinya begini...kalau semua kondisi diatas dicari-cari dalam diriku..maka dokter lulusan manapun akan merasa frastuated karena gak akan menemukan kelainan organis apapun yang mereka cari..hehehe
Tapi aneh kawans....
Aku tetap merasa lemah...dan aku merasa belakangan ini aku gak mampu melakukan apa-apa. Otakku tetap berputar keras..berfikir hingga berdenyut-denyut menyakitkan karena kelebihan hormon serotonin...dan aku merasa jaras sinaptik dari otak ke organ motorik ku lumpuh..
sebab setiap kali aku ingin bergerak.... setiap kali itupula aku hanya bisa terhempas kembali ketempatku semula..tak berdaya..powerlesss..less..less
Aku hilang semangat...
Yang paresis justru jiwaku...dan aku merasa hal itu jauh lebih parah jika dibandingkan kelemahan organis manapun...
entah sampai kapan......
KARENA AKU SEORANG PEREMPUAN...
Perempuan itu....
menurut aturan yang entah secara sadar atau tidak diberlakukan sejak zaman kuda mulai belajar gigit roti (desert nya kali yaaa...karena setahu saya makanan utamanya yaa rumput itu) -- kewajibannya hanya berputar-putar pada persoalan yang tidak jauh dari perut --sebut sajalah persoalan dapur-sumur dan kasur..sukur-sukur kalo gak sampai babak belur...
Kalau ada yang berubah..paling-paling hanya urut-urutan dari ketiga suku kata tersebut yang sebetulnya sangat mudah mengikuti hukum aljabar...
menurut aturan yang entah secara sadar atau tidak diberlakukan sejak zaman kuda mulai belajar gigit roti (desert nya kali yaaa...karena setahu saya makanan utamanya yaa rumput itu) -- kewajibannya hanya berputar-putar pada persoalan yang tidak jauh dari perut --sebut sajalah persoalan dapur-sumur dan kasur..sukur-sukur kalo gak sampai babak belur...
Kalau ada yang berubah..paling-paling hanya urut-urutan dari ketiga suku kata tersebut yang sebetulnya sangat mudah mengikuti hukum aljabar...
MENEMBUS BATAS CAKRAWALA
Entah kenapa hari ini hatiku begitu gelisah..
Berulangkali kubolak-balikkan tubuhku diatas tempat tidur, mencoba mengurai satu persatu gerangan penyebab kegundahan itu... tapi tak jua kutemukan jawabnya.
Satu hal yang pasti adalah..perasaan seperti ini muncul setelah "Maryamah Karpov, mimpi-mimpi Lintang"- episode terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata -- kelar kubaca. Perasaanku seperti diaduk-aduk...kepalaku pening, selera makan ku menguap kering seperti cairan alkohol 90% yang tumpah lalu menguap tanpa bekas. Tidurku tak pernah tenang (itupun kalau sempat tertidur) karena setiap kali kelopak mataku mulai terkatup...wusshhhh.... seketika itupula bayangan aneh berkelebat lincah dimataku- selincah pesilat tangguh dari negeri China membuat kepalaku pening...mual...
Kenapa bisa begitu adanya???
Bagiku..orang itu terlalu berani bemimpi...sangat berani malah kalau bisa kubilang...dan kronis
Dan dalam setiap mimpinya diapun sangat berani menghembuskan nafas-nafasnya sekuat-kuatnya....
Hal itulah yang menohok dadaku bak seratus gurindam menghantam pectoralis-ku...menimbulkan perih teramat sangat
Mengapa aku tidak jua berani bermimpi seperti orang itu???
padahal aku punya "segala" yang dulu tidak dimilikinya (kecuali mimpi-mimpi itu barangkali..tapi rasanya tidak juga, karena ternyata aku punya beberapa)
Ku mencoba tuk memejamkan mata lebih lama..tak peduli pada kelebat bayangan itu yang semakin meliuk menggila. Kucoba menciptakan kembali semua mimpi-mimpi yang pernah tenggelam dalam lumpur keputus-asaan...bahkan yang terliar sekalipun...
Ayolah..manis...kalau dia bisa...akupun pasti bisa...karena aku dan dia sama manusianya...simpul-simpul mimpipun pasti tercipta dari jaras-jaras sinaptik hypothalamus yang memiliki struktur anatomi yang sama ...kenapa aku mesti takut???
Yahh..kenapa aku mesti takut???ketika nafas yang kuhembuskan juga sekuat orang itu mengisi setiap lobus paru-parunya dengan isapan oksigen..maka aku tak perlu takut...sisanya tinggal urusanku denganNYA
Berulangkali kubolak-balikkan tubuhku diatas tempat tidur, mencoba mengurai satu persatu gerangan penyebab kegundahan itu... tapi tak jua kutemukan jawabnya.
Satu hal yang pasti adalah..perasaan seperti ini muncul setelah "Maryamah Karpov, mimpi-mimpi Lintang"- episode terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata -- kelar kubaca. Perasaanku seperti diaduk-aduk...kepalaku pening, selera makan ku menguap kering seperti cairan alkohol 90% yang tumpah lalu menguap tanpa bekas. Tidurku tak pernah tenang (itupun kalau sempat tertidur) karena setiap kali kelopak mataku mulai terkatup...wusshhhh.... seketika itupula bayangan aneh berkelebat lincah dimataku- selincah pesilat tangguh dari negeri China membuat kepalaku pening...mual...
Kenapa bisa begitu adanya???
Bagiku..orang itu terlalu berani bemimpi...sangat berani malah kalau bisa kubilang...dan kronis
Dan dalam setiap mimpinya diapun sangat berani menghembuskan nafas-nafasnya sekuat-kuatnya....
Hal itulah yang menohok dadaku bak seratus gurindam menghantam pectoralis-ku...menimbulkan perih teramat sangat
Mengapa aku tidak jua berani bermimpi seperti orang itu???
padahal aku punya "segala" yang dulu tidak dimilikinya (kecuali mimpi-mimpi itu barangkali..tapi rasanya tidak juga, karena ternyata aku punya beberapa)
Ku mencoba tuk memejamkan mata lebih lama..tak peduli pada kelebat bayangan itu yang semakin meliuk menggila. Kucoba menciptakan kembali semua mimpi-mimpi yang pernah tenggelam dalam lumpur keputus-asaan...bahkan yang terliar sekalipun...
Ayolah..manis...kalau dia bisa...akupun pasti bisa...karena aku dan dia sama manusianya...simpul-simpul mimpipun pasti tercipta dari jaras-jaras sinaptik hypothalamus yang memiliki struktur anatomi yang sama ...kenapa aku mesti takut???
Yahh..kenapa aku mesti takut???ketika nafas yang kuhembuskan juga sekuat orang itu mengisi setiap lobus paru-parunya dengan isapan oksigen..maka aku tak perlu takut...sisanya tinggal urusanku denganNYA
Subscribe to:
Posts (Atom)