Kuawali hari dengan perasaan malu dan gelisah tak menentu..
Malu karena rasanya tak sanggup menahan gejolak gelombang rasa yang bias. Aku malu...
malu menengadahkan wajahku menghiba tatapan belas kasihanMu mengingat kering langkah dan niat menghambur kepelukanMu. Aku mencintaiMu..sangat mencitaiMu. Rasa takut kehilanganMu demikian besar menghantui, namun tak jua rasanya aku sanggup menahan gejolak gelombang rasa yang bias itu. Santun dan sayangMu membuatku tergila-gila..tapi kuatnya gejolak gelombang rasa itu membuatku cacat dan pincang..tarik aku..tarik aku..tolong..tariklah aku. Walaupun aku cacat dan pincang..rinduku sangat membuncah..dan aku yakin Kau pasti mengetahuinya
Tuesday, August 7, 2012
Wednesday, July 11, 2012
Sunday, July 8, 2012
Kutemui engkau di Taman Hati...
Jalan setapak menuju satu titik yang tertutup rimbun perdu, dengan satu celah serupa pintu. Perdu itu bukanlah sembarang perdu, tapi perdu yang tumbuh rimbun oleh alunan dzikir setiap helai daunnya pun oleh setiap fragmen tangkainya. Rimbunan perdu dzikir menjadi pembatas mengelilingi titik itu.
Celah yang serupa pintu..nampaknya memang pintu, pintu berdinding kokoh terbangun oleh rangkaian wirid dan do'a tak putus. Pintu yang hanya akan terbuka oleh satu kunci lantunan shalawat. Jika lantunan shalawat membuat pintu itu terkuak..sedikit saja celah untuk mengintip kedalamnya, tak ada lelah mata menatap tak berkedip.
Di dalam sana, dibalik pembatas rimbunan perdu dzikir yang mengelilingi titik itu, adalah sebuah taman dengan hijau rumput yang membentang, dengan pohon rindang tegak dahan membelai lembut, dengan bunga beraneka warna dan aroma, dengan satu telaga bening sejuk memanjakan sepasang belibis cantik. Itulah taman kita berdua..Taman hati
Aku tau engkau diam di sana menungguku (seperti katamu), di tepi telaga bening sejuk yang memanjakan sepasang belibis cantik itu. Dengan dzikir, wirid, do'a dan shalawat taman hati membuka diri menelan langkahku yang bergegas tak sabar berjumpa denganmu. Seperti biasa, aku tau engkau diam di sana menanti ruh-ku. Dan seperti biasa, engkau tersenyum bijak melihat kakiku bergegas tak lagi menapak. Engkau sambut uluran tanganku dengan tubuh yang berpendar memancarkan cahaya suci
Diriku jatuh bersimpuh, merendah dengan tak berdaya
jemari terpaut, engkau memandang lurus menembus selaput pelangi bola mataku..ritual kita baru saja akan dimulai ketika engkau berbisik:
Ku kunjungi kamu dalam doa-doaku..
Ku rasakan setiap gejolak di hatimu.
Kadang hati ini begitu perih..
kadang ku rasakan ketenangan...
Semua itu bergantung pada perasaanmu
yang terus ku rasakan tanpa henti.
Hati kita berdua bagai cermin
Tempat kita saling berziarah
Ku tunggu kamu di sini
Saat butir-butir air matamu
jatuh dalam putaran tasbih biru
Dan aku masih terus menunggu
Kembalinya kamu di sisiku..
Duhai Pencipta rimbunan perdu ini, padaMu kutitip janjiku..
kutemui engkau yang berdiam di sana menungguku (seperti katamu), di taman hati..di tepi telaga bening sejuk yang memanjakan sepasang belibis cantik itu... pada setiap pergantian detik
bersenandung symphoni ritual kita dengan ruh yang saling terpaut oleh lantunan dzikir dan doa
Kutemui engkau di taman hati..di tepi telaga bening sejuk..pada setiap pergantian detik
Innallaha ma'ana
hanya kita berdua...
Celah yang serupa pintu..nampaknya memang pintu, pintu berdinding kokoh terbangun oleh rangkaian wirid dan do'a tak putus. Pintu yang hanya akan terbuka oleh satu kunci lantunan shalawat. Jika lantunan shalawat membuat pintu itu terkuak..sedikit saja celah untuk mengintip kedalamnya, tak ada lelah mata menatap tak berkedip.
Di dalam sana, dibalik pembatas rimbunan perdu dzikir yang mengelilingi titik itu, adalah sebuah taman dengan hijau rumput yang membentang, dengan pohon rindang tegak dahan membelai lembut, dengan bunga beraneka warna dan aroma, dengan satu telaga bening sejuk memanjakan sepasang belibis cantik. Itulah taman kita berdua..Taman hati
Aku tau engkau diam di sana menungguku (seperti katamu), di tepi telaga bening sejuk yang memanjakan sepasang belibis cantik itu. Dengan dzikir, wirid, do'a dan shalawat taman hati membuka diri menelan langkahku yang bergegas tak sabar berjumpa denganmu. Seperti biasa, aku tau engkau diam di sana menanti ruh-ku. Dan seperti biasa, engkau tersenyum bijak melihat kakiku bergegas tak lagi menapak. Engkau sambut uluran tanganku dengan tubuh yang berpendar memancarkan cahaya suci
Diriku jatuh bersimpuh, merendah dengan tak berdaya
jemari terpaut, engkau memandang lurus menembus selaput pelangi bola mataku..ritual kita baru saja akan dimulai ketika engkau berbisik:
Ku kunjungi kamu dalam doa-doaku..
Ku rasakan setiap gejolak di hatimu.
Kadang hati ini begitu perih..
kadang ku rasakan ketenangan...
Semua itu bergantung pada perasaanmu
yang terus ku rasakan tanpa henti.
Hati kita berdua bagai cermin
Tempat kita saling berziarah
Ku tunggu kamu di sini
Saat butir-butir air matamu
jatuh dalam putaran tasbih biru
Dan aku masih terus menunggu
Kembalinya kamu di sisiku..
Duhai Pencipta rimbunan perdu ini, padaMu kutitip janjiku..
kutemui engkau yang berdiam di sana menungguku (seperti katamu), di taman hati..di tepi telaga bening sejuk yang memanjakan sepasang belibis cantik itu... pada setiap pergantian detik
bersenandung symphoni ritual kita dengan ruh yang saling terpaut oleh lantunan dzikir dan doa
Kutemui engkau di taman hati..di tepi telaga bening sejuk..pada setiap pergantian detik
Innallaha ma'ana
hanya kita berdua...
Friday, July 6, 2012
Menuju satu pintu...
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah. Onak dan duri sebesar ukuran semangatku membentang bebas dan bertebaran menutupi setapak itu. Bisikan itu sudah sejak lama menggaung dalam kalbu dan meniup lembut lembar demi lembar gendang telingaku untuk kemudian kuabaikan dengan keyakinan egois bahwa semua dapat kuhadapi dan kuputuskan sendiri.
Satu episode hidupku kulalui dengan kemanjaan dan kebodohan otak bertopeng mandiri dan kesabaran tanpa oase apapun. Cinta menggantung, menguliti kulitku dan menyayat daging tubuhku lapis demi lapis. Tubuhku termutilasi hatiku kerontang..sekarat dalam pedih tak terperi. Anehnya..tarikan nafasku masih teratur petanda mentari masih berpihak padaku..aku masih hidup. Ada anugrah besar yang tak pernah kusyukuri sebelumnya mengguyur tubuhku dengan kekuatan..aku alpa. Kembali bisikan itu muncul, kali ini kuikuti dengan langkah malas dan sikap pragmatis hingga akhirnya pukulan disertai lemparan kerikil besar dan kecil memaksaku untuk mendongak... Dia di sana, dengan lembut dan sayang mengguyur tubuhku dengan kekuatan tak pernah jemu..
Satu episode hidupku berikutnya aku jatuh cinta...pada kelembutan itu, kasih sayang itu dan guyuran kekuatan itu...merindu luar biasa langkah kupaksa mencari pintu genangannya.
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah. Onak dan duri sebesar ukuran semangatku membentang bebas dan bertebaran menutupi setapak itu..
Kembali tubuhku terkuliti, dagingku tersayat lapis demi lapis meninggalkan rasa perih tak terucapkan yang membuatku sekarat dan hatiku kerontang...
pada nyawa yang menggantung di ujung leher, sebentuk cinta menjadi penawar kuharap menjadi kereta kencana menuju pintu genangan itu...
Kudapati diriku seolah pungguk merindu rembulan hatiku bertepuk sebelah tangan, penawar itu berubah bentuk menjelma bagai Medusa dengan kepala-kepala beracunnya yang siaga mematuk dan meracuni tubuhku. Aku sekarat dalam sekarat..berulang makian kutelan kering menggores lapisan lembut kerongkonganku dan berdarah...
Tertatih dan sekarat aku berjalan mencari pintu genangan itu untuk mengetuknya...
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah. Onak dan duri sebesar ukuran semangatku kembali membentang bebas dan bertebaran menutupi setapak itu. Pun kembali tubuhku terkuliti, dagingku tersayat lapis demi lapis meninggalkan rasa perih tak terperih yang membuatku sekarat dan hatiku kerontang untuk yang kesekian kalinya..aku tak berdaya
Usapan lembut dan bisikan doa dari satu ruh mencampakkan diriku dari perihnya perjalanan kematian...
Kusambut dengan bayaran mahal kehidupan dan jiwaku, tak mengapa. Asalkan mampu kupandang pintu genangan itu dan tak peduli kulacurkan pikiranku untuk dapat mengintip kedalamnya.
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah...
Tapi aku tidak peduli lagi..matipun hatiku siaga, seberapa rusak tubuhku seburuk makian terhempas ke wajahku..apalah diriku..hampa
Bagiku berjalan menuju pintu dan berjumpa sumber genangan itu...akan menjadi penawar segalanya...
Ilahi, anta maksudi wa ridhaka matlubi
Satu episode hidupku kulalui dengan kemanjaan dan kebodohan otak bertopeng mandiri dan kesabaran tanpa oase apapun. Cinta menggantung, menguliti kulitku dan menyayat daging tubuhku lapis demi lapis. Tubuhku termutilasi hatiku kerontang..sekarat dalam pedih tak terperi. Anehnya..tarikan nafasku masih teratur petanda mentari masih berpihak padaku..aku masih hidup. Ada anugrah besar yang tak pernah kusyukuri sebelumnya mengguyur tubuhku dengan kekuatan..aku alpa. Kembali bisikan itu muncul, kali ini kuikuti dengan langkah malas dan sikap pragmatis hingga akhirnya pukulan disertai lemparan kerikil besar dan kecil memaksaku untuk mendongak... Dia di sana, dengan lembut dan sayang mengguyur tubuhku dengan kekuatan tak pernah jemu..
Satu episode hidupku berikutnya aku jatuh cinta...pada kelembutan itu, kasih sayang itu dan guyuran kekuatan itu...merindu luar biasa langkah kupaksa mencari pintu genangannya.
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah. Onak dan duri sebesar ukuran semangatku membentang bebas dan bertebaran menutupi setapak itu..
Kembali tubuhku terkuliti, dagingku tersayat lapis demi lapis meninggalkan rasa perih tak terucapkan yang membuatku sekarat dan hatiku kerontang...
pada nyawa yang menggantung di ujung leher, sebentuk cinta menjadi penawar kuharap menjadi kereta kencana menuju pintu genangan itu...
Kudapati diriku seolah pungguk merindu rembulan hatiku bertepuk sebelah tangan, penawar itu berubah bentuk menjelma bagai Medusa dengan kepala-kepala beracunnya yang siaga mematuk dan meracuni tubuhku. Aku sekarat dalam sekarat..berulang makian kutelan kering menggores lapisan lembut kerongkonganku dan berdarah...
Tertatih dan sekarat aku berjalan mencari pintu genangan itu untuk mengetuknya...
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah. Onak dan duri sebesar ukuran semangatku kembali membentang bebas dan bertebaran menutupi setapak itu. Pun kembali tubuhku terkuliti, dagingku tersayat lapis demi lapis meninggalkan rasa perih tak terperih yang membuatku sekarat dan hatiku kerontang untuk yang kesekian kalinya..aku tak berdaya
Usapan lembut dan bisikan doa dari satu ruh mencampakkan diriku dari perihnya perjalanan kematian...
Kusambut dengan bayaran mahal kehidupan dan jiwaku, tak mengapa. Asalkan mampu kupandang pintu genangan itu dan tak peduli kulacurkan pikiranku untuk dapat mengintip kedalamnya.
Perjalanan mencari dan mengetuk pintu itu ternyata tidak mudah...
Tapi aku tidak peduli lagi..matipun hatiku siaga, seberapa rusak tubuhku seburuk makian terhempas ke wajahku..apalah diriku..hampa
Bagiku berjalan menuju pintu dan berjumpa sumber genangan itu...akan menjadi penawar segalanya...
Ilahi, anta maksudi wa ridhaka matlubi
Friday, May 18, 2012
Doa Sang Kekasih
Jikalau mencintaimu itu bagian dari petunjukNYA
biarlah terus kujadikan cinta ini bagian dari doaku setiap shalat:
Rabbi..tunjukilah kami jalanMu yang lurus
agar kami tidak jatuh dalam kubangan nafsu dan melupakanMU
Manakala menyayangimu itu bagian dari kasih sayangNYA
Akan terus kusayangi dirimu ketika kuseru namaNYA: Ya Arrahman Arrahim
Andai cinta ini menghadirkan kedamaian dan ketenangan dalam diri kita berdua
biarlah terus kuletakkan asma As-Salam diantara kita berdua
dan terus memohon agar kenikmatan dalam damai dan tenang itu
tidak melebihi nikmat,damai dan tenangnya munajat padaMU
Kalau obor cinta kita merupakan sepercik cahayaNYA
yang menanti diujung lorong panjang nan gelap biarlah terus kumohon pada AnNur
untuk berbagai cahaya dengan kita
dan menarik kita berdua dalam pusaran cahaya di atas cahaya
Canberra, 19/05/2012
dalam lelahnya jiwa...
biarlah terus kujadikan cinta ini bagian dari doaku setiap shalat:
Rabbi..tunjukilah kami jalanMu yang lurus
agar kami tidak jatuh dalam kubangan nafsu dan melupakanMU
Manakala menyayangimu itu bagian dari kasih sayangNYA
Akan terus kusayangi dirimu ketika kuseru namaNYA: Ya Arrahman Arrahim
Andai cinta ini menghadirkan kedamaian dan ketenangan dalam diri kita berdua
biarlah terus kuletakkan asma As-Salam diantara kita berdua
dan terus memohon agar kenikmatan dalam damai dan tenang itu
tidak melebihi nikmat,damai dan tenangnya munajat padaMU
Kalau obor cinta kita merupakan sepercik cahayaNYA
yang menanti diujung lorong panjang nan gelap biarlah terus kumohon pada AnNur
untuk berbagai cahaya dengan kita
dan menarik kita berdua dalam pusaran cahaya di atas cahaya
Canberra, 19/05/2012
dalam lelahnya jiwa...
Tuesday, April 17, 2012
Inikah awal perjalanan itu?...
Entah kenapa, senang rasanya hati bila berjalan diantara rimbun pepohonan.Mencium wangi udara bebas dan segarnya dedaunan hijau. Menyentuh setiap ulir kulit batang pohon. Menyapa setiap helai daun perdu..bercengkrama dengan setiap yang terbang dan yang melata.
Jiwa serasa bebas dan dekat...bebas dari segala dengki, prasangka dan amarah, namun dekat dengan segala ilmu yang menuntun pada wujudNYA. Bukankah DIA membentangkan alam ,menegakkan gunung-gunung, meninggikan langit, menurunkan hujan, menghidupkan yang terbang dan melata, memberikan cahaya pada bulan, bintang dan matahari semata untuk manusia agar mereka bisa merasakan wujudNya?
Sebulan terakhir (dari 25 tahun panjangnya penantian) keinginan dan panggilan untuk menyendiri semakin besar dan dorongannya begitu kuat, hingga memikirkannya pun terkadang menyakitkan dada. Kadang kuputuskan untuk tidak memikirkannya..dinikmati saja..bisikku
Tapi tidak bisa. Rimbun pohon itu seakan melambai memanggil, mahluk-mahluk yang terbang dan melata itu tidak berhenti berbisik..mengajakku bertasbih bersama...
Semakin lama semakin kuat..dan kuat...apa aku mulai gila?
Setiap saat kupaksa semua panca indra dan otakku untuk kembali ke dunia..seketika itu pula semuanya akan berakhir pada pencarian panggilan itu...apakah aku mulai gila
Tercipta galau yang luar biasa..sangat menyesakkan dada. Rasanya lebih menyesakkan daripada jatuh cinta... ataukah ini juga bagian dari 'jatuh cinta' episode yang lain?
Tatanan hati dengan manusia disekelilingku mulai luluh lantak..
Namun bedanya..aku tahu dengan pasti hal apa yang mampu meredakan tsunami galau dalam dadaku...ketika satu nama kubisikkan..kubisikkan..dan terus kubisikkan...
Ibarat angin segar berhembus melapangkan dada
Ibarat air dingin yang menyejukkan rasa haus sang kelana
ibarat rembulan yang meyinari gulita dan pekatnya malam
ibarat mentari dengan sinarnya yang lembut menghangatkan belahan dingin dunia
ibarat hujan yang tumpah mengaliri retakan tanah kering
ibarat sang pencinta yang menemukan kembali muara cintanya
Ilahi, anta maqsudi wa ridhaka matlubi...
Canberra, 18/04/12
Inikah awal perjalanan itu?
Jiwa serasa bebas dan dekat...bebas dari segala dengki, prasangka dan amarah, namun dekat dengan segala ilmu yang menuntun pada wujudNYA. Bukankah DIA membentangkan alam ,menegakkan gunung-gunung, meninggikan langit, menurunkan hujan, menghidupkan yang terbang dan melata, memberikan cahaya pada bulan, bintang dan matahari semata untuk manusia agar mereka bisa merasakan wujudNya?
Sebulan terakhir (dari 25 tahun panjangnya penantian) keinginan dan panggilan untuk menyendiri semakin besar dan dorongannya begitu kuat, hingga memikirkannya pun terkadang menyakitkan dada. Kadang kuputuskan untuk tidak memikirkannya..dinikmati saja..bisikku
Tapi tidak bisa. Rimbun pohon itu seakan melambai memanggil, mahluk-mahluk yang terbang dan melata itu tidak berhenti berbisik..mengajakku bertasbih bersama...
Semakin lama semakin kuat..dan kuat...apa aku mulai gila?
Setiap saat kupaksa semua panca indra dan otakku untuk kembali ke dunia..seketika itu pula semuanya akan berakhir pada pencarian panggilan itu...apakah aku mulai gila
Tercipta galau yang luar biasa..sangat menyesakkan dada. Rasanya lebih menyesakkan daripada jatuh cinta... ataukah ini juga bagian dari 'jatuh cinta' episode yang lain?
Tatanan hati dengan manusia disekelilingku mulai luluh lantak..
Namun bedanya..aku tahu dengan pasti hal apa yang mampu meredakan tsunami galau dalam dadaku...ketika satu nama kubisikkan..kubisikkan..dan terus kubisikkan...
Ibarat angin segar berhembus melapangkan dada
Ibarat air dingin yang menyejukkan rasa haus sang kelana
ibarat rembulan yang meyinari gulita dan pekatnya malam
ibarat mentari dengan sinarnya yang lembut menghangatkan belahan dingin dunia
ibarat hujan yang tumpah mengaliri retakan tanah kering
ibarat sang pencinta yang menemukan kembali muara cintanya
Ilahi, anta maqsudi wa ridhaka matlubi...
Canberra, 18/04/12
Inikah awal perjalanan itu?
Sunday, April 15, 2012
R e m u k . . .
Memilih kata untuk dirangkai menjadi kalimat yang tidak menyakiti siapa2 ternyata tidak gampang.
Seperti hari ini, galau hati menyeruak tatkala salah dalam berbicara menjungkir balikkan hati orang-orang tercinta. Demi Raja langit dan Bumi, maksud awal betul-betul tulus untuk jujur berbicara apa adanya. Benarlah kata orang2 bijak, terkadang kejujuran bisa berbalik menjadi bumerang buat diri sendiri, melukai tubuh dan mengoyakkan hati orang yang melemparkannya. Persahabatan yang terjaga pun akhirnya harus kandas di tengah jalan..luar biasa remuknya..
Inilah Qadla dan Qadar yang kuyakini kebenarannya,
Manusia tidak bisa menjadi sebab atas kejadian apapun dimuka bumi ini...
semua adalah kehendakNya..banyak ilmu yang harus dituai dari setiap kejadian sedih maupun bahagia. Hati2 dalam berbicara. Wara' dan Zuhud terhadap berkata-kata jauh lebih tinggi nilainya dibanding terhadap emas dan perak, sebab itu melambangkan seberapa kuat keinginan kita untuk menjaga hati. Dan jika DIA sudah menutupi aibmu dimalam hari, janganlah engkau membukanya dengan menceritakannya pada orang lain esok harinya..Huwallahul'alimul ghaib
Seperti hari ini, galau hati menyeruak tatkala salah dalam berbicara menjungkir balikkan hati orang-orang tercinta. Demi Raja langit dan Bumi, maksud awal betul-betul tulus untuk jujur berbicara apa adanya. Benarlah kata orang2 bijak, terkadang kejujuran bisa berbalik menjadi bumerang buat diri sendiri, melukai tubuh dan mengoyakkan hati orang yang melemparkannya. Persahabatan yang terjaga pun akhirnya harus kandas di tengah jalan..luar biasa remuknya..
Inilah Qadla dan Qadar yang kuyakini kebenarannya,
Manusia tidak bisa menjadi sebab atas kejadian apapun dimuka bumi ini...
semua adalah kehendakNya..banyak ilmu yang harus dituai dari setiap kejadian sedih maupun bahagia. Hati2 dalam berbicara. Wara' dan Zuhud terhadap berkata-kata jauh lebih tinggi nilainya dibanding terhadap emas dan perak, sebab itu melambangkan seberapa kuat keinginan kita untuk menjaga hati. Dan jika DIA sudah menutupi aibmu dimalam hari, janganlah engkau membukanya dengan menceritakannya pada orang lain esok harinya..Huwallahul'alimul ghaib
Subscribe to:
Posts (Atom)